Tol Trans Jawa

Posted: Maret 9, 2011 in Sosial Budaya

Pembangunan Tol Trans-Jawa, Bukti Kegagalan Pemerintah dalam Program Pembangunan Sektor Pertanian

Sekali lagi pemerintah membuat ulah. Sepertinya itulah kesan yang terlihat dengan proyek pembangunan infrastruktur jalan tol trans-Jawa. Pembangunan jalan tol tersebut rencananya akan menghubungkan antara tol Cikampek (Jawa Barat) sampai Surabaya (Jawa Timur) yang ditargetkan akan selesai pada akhir 2009.Diharapkan oleh pemerintah bahwa pembangunan infrastruktur jalan tersebut akan memicu percepatan ekonomi khususnya sektor industri. Sekarang yang menjadi masalah adalah dengan adanya  proyek sebesar itu pasti juga akan mengorbankan lahan yang besar pula dan sebagian besar yang dikonversi adalah lahan produktif pertanian.

Ambisi besar pemerintah untuk membangun jalan tol trans-Jawa sepanjang 652 km paling tidak akan mengorbankan total lahan yang luasnya mencapai 655.400 ha dan lahan produktif pertanian seluas 4.264 hektar (Kompas, 17/11/2008). Berdasarkan data dari Real Estat Indonesia , pertumbuhan properti saja di jawa selama kurun waktu tiga tahun terakhir telah mengkonversi lahan seluas 891 hektar. Dengan pembangunan infrastuktur jalan tol pastinya akan memicu percepatan pertumbuhan properti. Tanpa dapat terelakkan ketahanan pangan nasional akan terganggu dengan pembangunan tersebut karena pulau jawa selama ini sebagai lumbung padi nasional dan penyumbang 53 persen kebutuhan pangan nasional ((Kompas, 17/11/2008).

Untuk mengatasi masalah berkurangnya lahan produktif pertanian di pulau Jawa yang tentunya akan berpengaruh cukup besar bagi ketahanan pangan nasional, pemerintah berencana menjual lahan pada swasta yang kemudian harus menggantinya dengan membuka lahan untuk pertanian yang luasnya minimal tiga kali luas lahan yang dikonversi. Perlu diingat bahwa lahan diluar pulau Jawa sebagian besar tidak cocok untuk tanaman pangan khususnya padi disebabkan sebagian lahan di luar pulau Jawa mempunyai tingkat keasaman yang tinggi. Seharusnya kegagalan program konversi satu juta hektar hutan Sumatera untuk lahan pertanian pada masa orde baru dapat dijadikan sebagai bahan pelajaran bagi pemerintah.

Perhatian pemerintah terhadap sektor pertanian sebenarnya tidak kurang, bahkan sejak zaman pendudukan kolonialis Belanda. Akan tetapi yang menjadi pertanyaan adalah apakah segala kebijakan pemerintah di sektor pertanian selama ini efektif dan dapat menyejahterakan petani sebagai subyek pertanian. Pada masa orde baru, pemerintah melalui berbagai macam program seperti BIMAS, INSUS dan SUPER INSUS yang dicanangkannya berhasil mewujudkan swasembada beras bahkan mampu mengekspor. Akan tetapi sepertinya pemerintah tidak konsisten dengan sektor pertanian. Setelah tercapainya swasembada beras, pemerintah mulai terlena dan melirik sektor lain yang dipandang lebih dapat meningkatkan perekonomian bangsa yaitu sektor industri sebelum melakukan penguatan disektor pertanian yang menjadi tujuan awalnya. Perhitungan pemerintah ternyata  meleset, pada kenyataanya pembangunan sektor industri ternyata kurang berkembang karena ditingkat internasional produk industri Indonesia tidak mampu bersaing dengan negara-negara industri lainnya.

Petani yang oleh pemerintah dijadikan sebagai obyek pertanian, melalui berbagai macam programnya terus menyuplai benih, pupuk, pestisida dan faktor produksi pendukung pertanian lainnya. Petani dituntut untuk menghasilkan produk beras maksimal dengan mengesampingkan kesejahteraannya sendiri. Dengan tercapainya swasembada beras pada tahun 1982 yang digunakan sebagai tolok ukur swasembada pangan nasional bukan berarti petani juga sejahtera. Produksi maksimal yang dicapai petani ternyata tidak dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan petani itu sendiri. Petani tetap dalam kemiskinan, bahkan dampaknya petani mengalami ketergantungan yang luar biasa pada benih, pupuk, pestisida buatan industri. Hutang pun melilit petani karena tidak mampu membayar hutang yang digunakan untuk membeli benih, pupuk dan faktor produksi lainnya.

Konsitensi pemerintah saat ini dipertanyakan kembali apalagi setelah adanya proyek pemerintah membangun tol trans-Jawa untuk mendukung sector industri. Sebenarnya pemerintah lebih terkonsentrasikan pada pembangunan sektor pertanian atau sektor industri. Tidak jelasnya orientasi pemerintah apakah ingin menjadi negara agraris, negara industri atau bahkan kedua-duanya  akan membahayakan negara Indonesia sendiri. Pertama Indonesia ingin kuat di sektor pertaniannya, setelah baru saja swasembada tercapai, pemerintah mengalihkannya pada sektor  industri yang pada realitasnya tidak mampu bersaing ditingkat internasional. Kemudian pemerintah kembali konsentrasi pada penguatan sektor pertanian, dan sebelum tercapainya swasembada untuk yang kedua kalinya pemerintah kembali melirik sektor perindustrian.  Hal ini diperparah dengan setiap terjadi pergantian kepemimpinan pemerintahan, setiap pemimpin mempunyai masing-masing program yang berbeda-beda, dan program dari kepemimpinan sebelumnya belum selesai diganti lagi dengan program lainnya seperti yang terjadi selama ini. Kenyataan yang paling mendasar bahwa pangan merupakan kebutuhan paling dasar bagi suatu Negara, dan dengan kekuatan pangan suatu negara akan disegani oleh Negara lainnya.

Pemerintah seharusnya melihat pengalaman masa lalu dan tidak terlalu terpesona dan ikut-ikutan dengan prospek pertanian maupun perindustrian negara lain. Yang harus dilakukan adalah dengan memahami karakteristik, kemudian kearifan, kemampuan dan kemauan bangsa Indonesia itu sendiri, setelah itu baru menentukan sektor yang tepat dan cocok. Sebenarnya yang dibutuhkan negara Indonesia adalah konsistensi pemerintah agar rakyat juga tidak bingung dengan arah pembangunan yang diprogramkan oleh pemerintah. Dengan konsistennya perintah dalam mengembangkan dan memajukan salah satu sektor tertentu, maka paling tidak akan ada acuan yang digunakan dalam setiap pengambilan kebijakannya untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s