Ilmu Akarologi

Posted: November 7, 2012 in Serangga

   Acarologi adalah ilmu yang mempelajari tentang akari (tungau), yaitu arthropoda yang pada fase dewasanya berkaki empat pasang yang merupakan pembeda utama dengan serangga (insecta) yang fase dewasanya berkaki tiga pasang.  Ilmu ini merupakan suatu studi yang terorganisasi untuk memahami fase kehidupan tungau dan peranannya di alam.

    Istilah akari pertama kali digunakan oleh Homer pada 850 sebelum masehi terhadap tungau atau kutu  yang  terdapat pada bulu anjing di Mesir.  Kemudian pada 350 SM Aristoteles juga menyebut istilah akari terhadap kutu yang terdapat pada rambut manusia Eutrombidium rostratum.  Barulah pada tahun 1758 Linneaus menerbitkan 30 arthropoda yang diberi istilah acari dalam jurnal Systema Naturae.  Dua ratus tahun lamanya ilmu tentang akari banyak dikembangkan oleh ahli-ahli seperti  Latreille, Leach, DeGeer, Duges, C.L. Koch, Michel, Kramer, Megnin, Canestrine, Berlese, Vitzthum dan Oudemans dengan menggunakan bahasa ibu mereka masing-masing.  Oudemans merupakan ahli akari belanda yang banyak mengekpose jenis-jenis tungau yang berasal dari Indonesia.  Barulah pada tahun 1952 buku tentang  acarologi di tulis oleh untuk yang pertama kali dalam bahasa Inggris oleh Baker dan Wharton (1952), selanjutnya Evans (1957), Evans et. al (1961), Krantz (1970), Hughes (1976) serta Jeppson et. al (1975) menulis secara konprehensif tentang “kerusakan ekonomi tungau pada tanaman pertanian” yang merupakan buku yang paling bernilai sampai sekarang.

     Sampai saat ini belum ada buku khusus tentang tungau kaitanya dengan bidang pertanian yang ditulis dengan menggunakan bahasa Indonesia.  Untuk itu perlu adanya buku tersebut sebagai sumber informasi dasar bagi perkembangan ilmu akari/tungau di Indonesia,

IntraGuild Predation

Posted: November 4, 2012 in Pengelolaan

   Intraguild Predation (IGP) dapat diartikan sebagai membunuh dan memakan diantara pesaing potensialnya (Polis et al., 1989). IGP terjadi ketika dua spesies yang berbagi mangsa terlibat dalam interaksi satu sama lain (parasitisme atau pemangsaan) (Rosenheim et al., 1995). Dalam jaring-jaring makanan, predasi dan kanibalisme sering terjadi pada tingkat trofik yang berbeda. Interaksi terjadi ketika extraguild mangsa tidak melimpah atau jarang (Lukas et al., 1997). IGP merupakan faktor mortalitas penting yang berpotensi menghasilkan kepunahan lokal bagi populasi IG mangsa, tetapi sebaliknya dapat meningkatkan kelimpahan IG mangsa melalui kompetisi interspesifik.

  Kumbang koksi C. sexmaculata dan C. transversalis merupakan predator potensial dalam menurunkan populasi kutu daun, khususnya Aphis craccivora.

  Hasil penelitian Pervez dan Omkar (2005) menyatakan bahwa C. sexmaculata dan Ctransversalis lebih efektif mengendalikan Aphis craccivora daripada Myzus persicae. Wagiman (1997), Omkar dan Bind (2004), dan Omkar et al. (2005) menunjukkan bahwa C. sexmaculata efektif mengendalikan A. craccivora. Hasan et al. (2000) melaporkan bahwa C. sexmaculata merupakan salah satu predator yang mempunyai beberapa kelebihan, diantaranya adalah kemampuan reproduksi yang tinggi, siklus hidup yang lama, dan tingkat pemangsaannya tinggi.

  Kedua predator tersebut sering terdapat pada satu habitat yang sama, sehingga berpotensi untuk saling memakan atau berkompetisi. Umumnya predator yang memiliki ukuran relatif lebih besar akan mendominasi predator yang lebih kecil. Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari potensi IGP antar kumbang predator C. sexmaculata dan C. transversalis dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan masing-masing spesies.

By Maria Christina

Teknik Identifikasi Serangga

Posted: November 4, 2012 in Uncategorized

  Identifikasi merupakan proses (cara) pemberian nama pada individu atau sekelompok individu setelah dilakukan pengklasifikasian. Penamaan spesies mengacu pada pada sistem pemberian nama ilmiah  (scientific name) berupa Binomial name, yaitu penggabungan dua kata yang mencirikan sifat dari individu yang diberi nama. Identifikasi dilakukan untuk menggolongkan suatu organisme pada status tertentu baik itu takson ataupun status berdasarkan kerugian secara ekonomi (Putra, 2011; Hidayat, 2002).

  Apabila seorang pengamat menemukan sebuah spesies serangga hama, hal pertama yang dilakukan adalah melakukan identifikasi. Namun, ada beberapa kendala dalam melakukan identifikasi. Menurut Borror et al. (1992) ada empat kendala dalam melakukan identifikasi yaitu terlalu banyaknya macam dan jenis serangga, kebanyakan serangga berukuran kecil dan pembedanya sulit dilihat, banyak macam serangga yang masih belum dikenal dan yang keempat setiap serangga memiliki siklus hidup yang berbeda-beda.

  Kendala dalam melakukan identifikasi dapat diatasi menggunakan lima teknik identifikasi serangga, yaitu menanyakan kepada ahlinya, membandingkan dengan koleksi yang ada pada museum, melakukan identifikasi menggunakan gambar-gambar, membandingkan serangga dengan deskripsi-deskripsi dan yang terakhir menggunakan kunci determinasi (Borror et al., 1992). Karakter morfologi dapat digunakan sebagai dasar dalam melakukan identifikasi dan ini merupakan cara yang paling sederhana serta mudah dilakukan. Salah satu cara identifikasi dengan menggunakan karakter morfologi adalah melihat kunci identifikasi. Menurut Suputa (2006) karakter morfologi pada lalat buah yang digunakan untuk melakukan identifikasi meliputi bagian caput, torak, karakter scutellum, karakter sayap dan karakter abdomen. Dalam melakukan identifikasi hama tanaman menurut Putra (2011) ada dua hal dasar yang digunakan. Pertama menggunakan karakter tubuh seperti morfologi, anatomi, perilaku dan fisiologi. Selain karakter tubuh, identifikasi juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan untai basa DNA yang terdapat pada sel-sel serangga sebagai pencirinya (Putra, 2011).

  Teknik identifikasi seperti diatas dengan memanfaatkan karakter morfologi memiliki beberapa kendala yaitu ketika serangga yang akan diidentifikasi memiliki ukuran sangat kecil, pembeda antar spesies secara morfologi sulit dilihat sehingga identifikasi yang dilakukan dengan memanfaatkan DNA (Hidayat et al., 2004). Perkembangan ilmu dan pengetahuan dalam biologi molekuler, khususnya pada pengkajian karakter bahan genetik telah menghasilkan kemajuan yang sangat pesat bagi perkembangan penelaahan suatu organisme dan pemanfaatannya bagi kesejahteraan manusia. Di bidang taksonomi, sebagai contoh Avise & Lansman (1983) dan Brown (1983) mengungkapkan peran DNA mitokondria (mtDNA) dalam studi keanekaragaman genetika dan biologi populasi pada hewan. DNA mitokondria banyak digunakan untuk mengungkap variasi genetik (Loftus et al., 1994; Suryanto, 2003), karena ukurannya yang relatif kecil, terlibat dalam sintesis energi dan mempunyai kecepatan mutasi 5-10 kali lebih tinggi daripada DNA inti (Lindberg, 1989). Mitokondria merupakan pusat sintesis energi dan ketersediaan energi yang ada akan berpengaruh terhadap reaksi metabolisme. Berbagai macam enzim terlibat dalam sintesis energi dan sebagian dari enzim tersebut dikodekan oleh DNA mitokondria dan polimorfisme DNA mitokondria mempengaruhi fenotipe (Loftus et al., 1994).

  Secara umum penggunaan teknik molekuler untuk tujuan identifikasi suatu organisme mempunyai keunggulan seperti lebih akurat, lebih cepat, dan untuk mikroba dapat mencakup keseluruhan mikroba termasuk yang “viable but not yet culturable”(Suryanto, 2003). Beberapa teknik identifikasi didasarkan pada polimorfisme gen secara langsung seperti Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD), Restricted Fragment Length Polymorphism (RFLP), Degradative Gradien Gel Electrophoresis (DGGE), analisis sekuen dan Macrorestricted Fragment Length Polymorphism (MFLP) (Suryanto, 2003).

Dinding Tubuh Serangga

Posted: April 7, 2011 in Serangga

Dinding Tubuh Serangga

Insectzoo.msstate.edu

Rangka seekor hewan menunjang dan melindungi tubuh, dan memindahkan gaya- gaya yang ditimbulkan oleh kontraksi urat- urat daging. Salah satu sifat dasar artropoda adalah perkembangan keeping- keeping yang mengeras atau bagan keeping- keeping yang mengeras atau sklerit, dan persatuan mereka ke dalam system rangka hewan tersebut. Ini biasanya disebut sebagai eksoskeleton karena sklerit adalah bagian dari dinding tubuh bagian luar artropoda. Sebenarnya, artoproda juga mempunyai eudoskeleton (rangka dalam) penunjang yang luas, kekang- kekang, dan tempat- tempat untuk penempelan urat- urat daging. Sifat- sifat dinding tubuh juga mempengaruhi cara zat- zat seperti air dan oksigen bergerak masuk dan keluar dari hewan.

Integumen seekor serangga terdiri dari tiga lapisan utama : satu lapisan sel, epidermis; lapisan aseluler yang tipis di bawah epidermis (yaitu menuju ke bagian dalam hewan), selaput dasar; dan lapisan aseluler lainnya, yang disekresikan oleh sel- sel epidermis dan dikeluarkan, yaitu kutikula.

Kutikula dadalah lapisan kimiawi yang kompleks, tidak hanya berbeda dalam struktur dari satu jenis ke jenis lainnya, tetapi bahkan berbeda dalam ciri- cirinya dari satu bagian seekor serangga ke bagian lainnya. Kutikula terbuat dari rangkaian- rangkaian polisakarida, kitin yang terbungkus dalam matrik protein. kitin terutama terbuat dari monomer gula N-asetilglukosamin. Rangkaian- rangkaian kitin individual saling menjalin- jalin membentuk mikrofibril, dan  mikrofibril- mikrofibril ini seringkali terletak sejajar dalam satu lapisan disebut lamina.

Kitin itu sendiri ialah satu zat yang sangat resisten, tetapi tidak membuat kutikula keras. Kekerasan berasal dari perubahan- perubahan selubung protein di mana mikrofibril- mikrofibril diselimuti. Kutikula tersebut pertama kali disekresikan oleh epidermis, disebut prokutikula, adalah empuk, liat, pucat warnanya, dan mudah direnggangkan sampai batas tertentu.  Pembentukan sklerit di kutikula ini adalah proses pengerasan dan penghitaman atau sklerotisasi. Ini akibat dari pembentukan ikatan- ikatan silang antara rangkaian- rangkaian protein di bagian- bagian luar prokutikula. Kutikula yang brsklerotisasi demikian disebut eksokutikula. Dibawah eksokutikula mungkin kutikula yang tidak bersklerotisasi yang disebut endokutikula. Endokutikula yang liat membentuk “selaput” yang menghubungkan sklerit- sklerit dan dapat diserap kembali dalam tubuh sebelum berganti kulit.

Di atas endo- dan eksokutikula terdapat satu lapisan aseluler yang sangat tipis, epikutikula. Epikutikula itu sendiri terdiri dari lapisan- lapisan : yang biasanya ada ialah epikutikula bagian dalam, epikutikula bagian luar (atau kutikulin), satu lapisan lilin, dan satu lapisan perekat. Epikutikula tidak mengandung kitin. Lapisan lilin tersebut sangat penting bagi serangga- serangga darat karena lapisan lilin berfungsi sebagai mekanisme utama untuk membatasi kehilangan air melalui dinding tubuh (kedua eksokutikula dan sendokutikula permeabel terhadap air). Seperti hanya suatu benda padat yang menyusut dalam ukuran besarnya (bila diukur berdasar isi, luas permukaan, atau beberapa dimensi linear) maka perbandingan luas permukaan terhadap isinya, yaitu jumlah daerah permukaan, imbanga itu meningkat. Karena itu, kehilangan air melalui permukaan tubuh secara relatif lebih penting bagi seekor makhluk kecil daripada yang besar. Banyak hewan- hewan darat kecil terkenal yang tidak mempunyai satu lapisan malam, misalnya siput dan isopoda, tetapi makhluk- makhluk ini biasanya terbatas pada daerah- daerah yang mempunyai kelembaban relatif yang tinggi, jadi menurunkan laju hilan air dari tubuh mereka.

Sklerit- sklerit dinding tubuh seringkali dipisahkan oleh lekukan- lekukan dan bukit- bukit, atau mungkin menonjol ke dalam tubuh sebagai tonggak- tonggak dalam. Pada umumnya, suatu lekukan bagian luar memberikan satu tanda lekukan kutikula dinding tubuh bagian luar disebut suatu sulkus (jamak sulsi). Istilah sutura juga sangat luas dipakai dan menunjuk suatu garis persatuan antara dua sklerit yang dahulunya terpisah. Perbedaan itu sanagt halus dan seringkali sulit atau tidak mungkin hanya dengan melihat pada struktur bagian luar dari satu spesimen; oleh sebab itu di dalam buku ini kita umumnya kan menggunakan istilah- istilah ini lebih kurang secara sinonim. Garis pembalikan (infeksi) yang terlihat dari sebelah luar biasanya berkaitan dengan gerigi- gerigi bagian dalam, atau kostae. Kostae bagian dalam berfungsi sebagai kekang- kekang yang menguatkan atau sebagai tempat- tempat penempelan otot daging. Puncak bagian luar mungkin disebut sebagai kosta atau karina (atau sejumlah nama- nama umum Inggris lainnya seperti ‘keel’). Penonjolan- penonjolan bagian dalam kutikula juga disebut sebagai apodema atau apofisis.

 

Siapa Aku?

Posted: April 3, 2011 in Uncategorized

BINTANG YANG CANTIK

Gambar : Suputa

Bentuku seperti bintang

Warna tubuhku bagian tengah kuning dan sekeliling hialin

aku biasa ditemukan pada tanaman mangga

aku sering terdapat pada bagian bawah permukaan daun mangga

Makananku adalah nutrisi pada daun mangga

SIAPAKAH AKU?

 

Bunga Mangga Yang Rusak

Posted: April 3, 2011 in Pengelolaan

Forum Diskusi

Koleksi Pribadi; Kerusakan Pada Bunga Mangga

Jumat siang kemaren tepatnya tanggal 1 maret 2011, penulis jalan-jalan didaerah pemalang jawa tengah. Kemudian penulis berhenti disebuah kebun mangga yang lumayan luas mungkin kira-kira 500 m2, penulis lihat-lihat kebun tersebut sambil mengamati buahnya. Namun saat penulis sedang mangamati bunga buah mangga yang berwarna kecoklatan seperti gosong tiba-tiba ada bapak tua yang menghampiri penulis. Ternyata bapak tua tersebut pemilik dari kebun mangga ini. Bapak tersebut mulai cerita tentang kebun mangganya dan dia merasa jengkel karena setiap kali berbunga buah mangganya pasti selalu ada yang berguguran, bahkan pada bagian tersebut menjadi layu sehingga bunga yang jadi buah hanya satu dua saja. Ketika penulis amati tidak tampak adanya serangan hama. Berkaitan dengan hal tersebut menurut teman-teman apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana solusinya?

 

PENGENDALIAN PENGGEREK BATANG PADI PUTIH OLEH PETANI

gambar: bpplentengsumenep.com

a. Penggenangan Tunggul

Pengendalian penggerek batang padi dapat dilakukan potong rumpun padi saat panen lebih kebawah, pengolahan tanah yang sempurna, pengaturan waktu semai setelah dilampauinya puncak penerbangan ngengat >7 hari dan penggenangan tunggul padi.

Cara penggenangan tunggul padi ditujukan ulat diapauses (lebih dari 4 bulan setelah panen). Cara ini telah umum dilakukan petani didaerah endemis serangan penggerek batang padi putih di daerah Cirebon, indramayu dan sekitarnya. Pengalaman yang dilakukan kelompok tani kertasari kecamatan bongas kabupaten indramayu membuktikan bahwa dengan melakukan penggenangan lahan setingggi .5 cm selama 5 hari terus menerus, mengakibatkan lahan ini menjadi kondisi anaerob bagi organisme yang mengakibatkan sulit mengkonsumsi oksigen di udara secara baik.

b. Pengumpulan Kelompok Telur disesuaikan dengan jadwal kegiatan di sawah

(dilakukan oleh kelompok tani di Yogyakarta dan kelompok tani campurdarat Tulungagung)

Pengumpulan kelompok telur penggerek agar tidak memerlukan waktu khusus dapat dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan kegiatan rutin mengelola sawah yaitu sebagai berikut :

  • Saat mencabut bibit untuk ditanam
  • Saat menyiang ke 1 yaitu sekitar umur tanaman 14 hst
  • Saat menyiang ke 2 yaitu sekitar umur tanaman 35 hst